Pertemuan Koordinasi Persiapan Pelaksanaan Kegiatan Tanaman Semusim Tahun 2011
Yogyakarta : Pertemuan Koordinasi Persiapan Pelaksanaan Kegiatan Tanaman Semusim Tahun 2011 dilaksanakan di The Jayakarta Hotel & Spa Yogyakarta pada tanggal 24 – 26 Pebruari 2011 yang dihadiri oleh KPTR seluruh Indonesia, Dinas Perkebunan Propinsi dan Dinas Kabupaten yang membidangi perkebunan di wilayah pengembangan tebu, kapas, dan nilam, serta instansi terkait seperti, Balittro Bogor, Balittas Malang, BPSDLP (Balitnah) Bogor, Dewan Atsiri Indonesia, BMKG dan Direktorat Jenderal Perkebunan.Dalam kesempatan ini Direktur Tanaman Semusim memberikan arahan dimana sesuai SK. Dirjen Perkebunan Nomor 44/Kpts/PD.310/3/2008 tanggal 12 Maret 2008, terdapat tidak kurang dari 30 jenis komoditi merupakan binaan Direktorat Tanaman Semusim, 4 (empat) diantaranya yaitu : Tebu, Kapas, Nilam dan Tembakau merupakan kelompok komoditi unggulan nasional dan menjadi prioritas binaan.
Dari ke empat komoditi unggulan tersebut, tiga diantaranya yaitu Tebu, Kapas dan Nilam; pengembangannya pada tahun 2011 didukung/difasilitasi anggaran APBN-TP yang ditampung dalam DIPA Direktorat Jenderal Perkebunan TA. 2011, dan sesuai tupoksi, pelaksanaan pembinaannya melekat pada Direktorat Tanaman Semusim.
Dalam rangka optimalisasi pencapaian tujuan dan sasaran penggunaan dana APBN-TP Tahun 2011, dan sesuai Petunjuk Operasional Kegiatan (POK) dari DIPA Ditjen Perkebunan tersebut, maka perlu dilakukan Pertemuan Koordinasi dan Sinkronisasi Persiapan Pelaksanaan Pengembangan Tanaman Semusim khususnya untuk ketiga komoditi tersebut diatas.
Dalam rangka optimalisasi dan ketepatan pencapaian tujuan pertemuan, maka pelaksanaan Pertemuan Koordinasi Persiapan Pelaksanaan Pengembangan Tanaman Semusim (Tebu, Kapas, Nilam) 2011, perlu melibatkan fungsi-fungsi terkait baik Pusat maupun Daerah serta Pemangku Kepentingan (stakeholder) lainnya.
Adapun dari hasil pertemuan tersebut dapat disimpulkan beberapa hal antara lain: Kebutuhan gula nasional baik untuk konsumsi langsung rumah tangga maupun industri mamin dan farmasi akan terus meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk. Pada tahun 2014 Kebutuhan gula nasional mencapai 5,700 juta ton. Untuk memenuhi kebutuhan gula tersebut diupayakan melalui Program Swasembada Gula Nasional. Hasil evaluasi akhir tahun 2010 menunjukan bahwa pencapaian sasaran produksi secara nasional memang belum sepenuhnya tercapai yaitu produksi pada tahun 2010 sebesar 2,37 juta ton atau 77 % dari target sebesar 2,99 juta ton. Akan tetapi jika dilihat keragaannya dari tahun 2003 sejak awal pelaksanaan program akselerasi peningkatan produktivitas tebu menunjukan angka kenaikkan yang menggembirakan yaitu dari produksi gula sebesar 1,632 juta ton pada tahun 2003 meningkat 2,705 ton pada tahun 2008 dan tahun 2010 menurun menjadi 2,37 juta ton dan berdasarkan taksasi terakhir produksi guna naik lagi menjadi 2,69 Juta ton.
Terkait dengan tanaman semusim lainnya seperti kapas, tembakau dan nilam tetap kita perhatikan terutama diperencanaan awal, waktu tanam yang tepat karena adanya anomali iklim serta menyelesaikan simpul-simpul penting didalam pengembangan komoditi masing-masing terutama penyediaan benihnya, ketersediaan sarana produksi serta mitra dengan pengelola ataupun pasar.
- Program Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Tanaman Semusim diimplementasikan dalam beberapa kegiatan antara lain :
- Pencapaian Swasembada Gula Nasional yang mencakup Pembangunan Kebun Bibit Datar (eks kuljar) seluas 780 Ha, Perluasan (Ekstensifikasi) Tebu Rakyat seluas 2023 Ha, Demplot Double Kinerja seluas 203 Ha, Pelatihan/Pemberdayaan Petani Tebu sebanyak 129 Kelompok Tani, Biaya Operasional TKP dan PLP TKP Tebu sebanyak 75 orang;
- Pengembangan Komoditas Ekspor mencakup Pengembangan Budidaya Nilam seluas 188 Ha, Pembekalan/Penerapan GAP Nilam/SPO Budidaya Nilam sebanyak 11 paket; Pengembangan Komoditas Pemenuhan Konsumsi Dalam Negeri meliputi :
- Penanaman Tanaman Kapas seluas 13.415 Ha, Operasional dan Pelatihan Tenaga Kontrak Pendamping (TKP) dan Petugas Lapang Pembantu TKP (PLP-TKP) Operasional Petugas TKP dan PLP-TKP sebanyak 154 orang, Pelatihan Petugas TKP dan PLP-TKP sebanyak 21 orang, Pemberdayaan Petani Tanaman Kapas sebanyak 33 paket;
- Kegiatan Pengembangan Tanaman Perkebunan Berkelanjutan mencakup : Pembangunan Penangkar Benih Nilam seluas 10 Ha, Penataan Varietas Tebu seluas 32 Ha, Warung Tebu Varietas Unggul Baru Bibit Tebu Kultur Jaringan seluas 32 Ha, Penilaian dan Workshop Penangkar Benih Tebu sebanyak 7 paket, Penanaman Tanaman Kapas Varietas Baru (Var. Kanesia 9, 10, 11, 12, 13, 15, dan Karisma 1) seluas 50 Ha,
- Pembinaan Pengembangan Agribisnis Lembaga Mandiri Bidang Perkebunan sebanyak 4 paket, Peningkatan Kegiatan Eksibisi, Perlombaan dan Penghargaan Perkebunan sebanyak 111 orang, dan Pengembangan Kelembagaan Tanaman Semusim sebanyak 5 Kelompok Tani.
- Kesiapan daerah dalam pelaksanaan kegiatan tanaman semusim (Tebu, Kapas, Nilam) tahun 2011 telah terkoordinasikan dengan cukup baik. Khusus untuk pengembangan tanaman tebu, KPTR selaku pelaksana pemanfaatan dana PMUK telah membuat suatu kesepakatan dalam tata cara pengelolaan dana Bantuan Sosial dalam bentuk PMUK yang pada dasarnya tidak kembali ke kas negara akan dikelola sepenuhnya oleh KPTR dengan pengawalan dan pendampingan oleh Tim Teknis Kabupaten dan Propinsi.
- Potensi luas lahan pengembangan tebu di Indonesia adalah seluas 12.588.100 Ha dengan rincian tingkat kesesuaiannya tinggi adalah seluas 6.217.500 Ha, sedang 3.059.000 Ha, dan tingkat kesesuaian rendah seluas 3.311.600 Ha. Namun dalam pelaksanaannya terdapat beberapa kendala dalam optimalisasi pemanfaatan lalahan tersebut, antara lain ijin pelepasan lahan HPK dari Kementerian Kehutanan yang belum diterbitkan.
- Sasaran dari demplot double kinerja (DDK) adalah : terbangunnya kebun tebu percontohan di wilayah sentra produksi tebu rakyat), penerapan paket teknologi budidaya tebu spesifik secara tepat dan benar untuk mendorong peningkatan produksi, menghasilkan bahan baku tebu yang berkualitas bagi PG dan meningkatnya pendapatan dan kesejahteraan petani tebu. Program DDK kebun tebu diharapkan dapat sebagai acuan program percepatan kelipatan produktivitas gula nasional sesuai target waktu yang telah dijadwalkan oleh Pemerintah dengan indikator keberhasilan tercapainya produktivitas tebu minimal 117 ton/ha, produktivitas gula 10 ton/ha dan rendemen 8,5 %.

- Berdasarkan prakiraan curah hujan dan prospek musim kemarau untuk tahun 2011 adalah : (i). Awal tahun 2011 curah hujan masih tinggi pada sebagian besar wilayah Indonesia di bulan Mei dan Juni 2011 yaitu sebanyak 104 ZOM (47,3 %) dan bulan Juli 2011 memasuki musim kemarau 2011 paparan bmkg dan daisebanyak 215 ZOM (97,7 %); (ii). Dibandingkan dengan rata-rata awal musim kemarau (1971-2000), sebagian besar wilayah umumnya Mundur yaitu sebanyak 156 ZOM (70,9 %) dan Sama dengan rata-ratanya sebanyak 58 ZOM (26,4 %); (iii). Sifat hujan di tahun 2011 ini adalah sebagian besar wilayah Normal (137 ZOM = 62,3 %) dan Diatas Normal (72 ZOM = 32,7 %).
- Perlu dilakukan upaya-upaya untuk mengatasi masalah-masalah dalam pelaksanaan Cultiva Nilam melalui pembinaan instansi yang terkait, membenahi kelembagaan petani, dan memperbaiki teknis budidaya
- Penerapan teknologi yang mendukung dalam pengembangan tanaman kapas berupa pemilihan varietas dan benih kapas, penyesuaian waktu tanam dengan iklim dan air pada tanaman kapas, penanaman yang ideal untuk tanaman kapas adalah tanah bertekstur sedang, pemupukan yang baik dan waktu pemupukan yang tepat yaitu pada phase vegetatif, pembungaan dan pembuahan, sistem pertanaman kapas sebaiknya tumpangsari kapas dan palawija, penerapan PHT kapas dengan menggunakan varietas yang toleran terhadap serangan wereng kapas, penanganan panen yang tepat dengan panen yang bertahap hanya dipetik buah yang telah merekah sempurna kadar air kapas berbiji 7%.
- Perbaikan SPO budidaya nilam yang berkelanjutan dan terus menerus, SPO yang bersifat spesifik lokasi perlu ditindak lanjuti dengan analisis efektivitas dan efisiensi teknologi yang bersifat spesifik, terbatas agroekosistem dan kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat, Akan segera dilakukan revisi SPO sistem budidaya nilam.

















