Pengujian Mutu Benih Tanaman Perkebunan

Oleh:  Yeti Ernaningtyas,S.Si,MP 

 


Pengadaan benih bermutu merupakan upaya penting untuk mendukung keberhasilan pembangunan tanaman perkebunan. Produktifitas tanaman perkebunan umumnya masih sekitar 50% dari produktivitas seharusnya. Keadaan ini disebabkan oleh rendahnya mutu benih yang digunakan, terutama pada perkebunan rakyat (Hasanah, 2002). Oleh karena itu program revitalisasi perkebunan diarahkan pada ketersediaan benih dan penggunaan benih bermutu.

Pada tanaman perkebunan penggunaan benih bermutu sangat menentukan produktivitas, kualitas hasil serta ketahanan terhadap hama dan penyakit. Kesalahan dalam memilih dan menggunakan bahan tanam (benih) akan mengakibatkan kerugian dalam jangka panjang.  Dalam Wirawan, 1998 menyatakan bahwa Benih yang bermutu menjanjikan produksi yang baik dan bermutu pula jika diikuti dengan perlakuan agronomi yang baik dan input teknologi yang berimbang. Sebaliknya, bila benih yang digunakan tidak bermutu maka produksinya banyak tidak menjanjikan atau tidak lebih baik dari penggunaan benih bermutu. Penggunaan benih bermutu diharapkan mampu mengurangi berbagai faktor resiko kegagalan panen.

Salah satu tugas pokok dari laboratorium benih Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan adalah Pengembangan Pengujian Mutu Benih. Pengujian mutu benih meliputi mutu genetis, fisiologis dan fisik. Mutu genetis dipengaruhi oleh sifat-sifat genetis yang diturunkan dari tetua ke keturunannya melalui pembawa sifat yang disebut DNA, oleh karena itu pengujian genetis dapat dilakukan dengan uji DNA dan penelusuran asal usul tetua atau benih sumbernya serta kemurnian varietas. Mutu fisiologi dipengaruhi oleh kandungan kimia dalam benih yang dapat diukur dengan mengetahui kemampuan hidup (viabilitas), daya kecambah, vigor (daya tumbuh) dan kesehatan benih. Mutu fisik dipengaruhi oleh kondisi penampilan fisik benih yang dapat diketahui dengan mengukur kesegaran, kadar air, warna dan kebersihan.

 Pengujian mutu benih merupakan salah satu bagian yang sangat penting untuk mengetahui mutu dan kualitas benih. Informasi tersebut akan bermanfaat bagi produsen, penjual maupun konsumen benih. Pengujian laboratorium berperan besar dalam menyajikan data hasil uji yang akurat, dan tepat secara ilmiah. Pengujian laboratorium dilakukan untuk mengetahui mutu fisik, fisiologi dan genetis benih contoh. Untuk memperoleh hasil uiji yang dapat dipertanggungjawabkan, maka metode yang digunakan sebaiknya merupakan metode standar yang dipublikasikan secara nasional, regional maupun internasional. Internasional Seed Testing Association (ISTA) Rule merupakan acuan yang memuat metode pengujian benih yang telah teruji validasinya dan diterima secara Internasional di dunia perdagangan benih (BBP2MB-TPH, 2010). Data laboratorium harus memenuhi persyaratan sebagai berikut (Humandini, tanpa tahun):

1.   Objektif, data yang dihasilkan harus sesuai dengan keadaan yang  sebenarnya,

2. Representatif, data harus mewakili lot benih,

3. Teliti dan tepat terjamin kebenarannya,

4. Tepat waktu sesuai dengan kebutuhan pada saat tertentu,

5. Relevan, menunjang persoalan yang dihadapi.

Data hasil pengujian contoh benih juga harus mencerminkan mutu lot benih, dimana contoh tersebut diambil dan dari data tersebut dapat ditentukan masa berlaku label. Dalam Humandini, tanpa tahun ada beberapa faktor yang menentukan kebenaran dan kehandalan pengujian yang dilakukan laboratorium yaitu :

1. Personal yang kompeten,

2. Kondisi akomodasi dan lingkungan,

3. Metode pengujian dan validasi metoda,

4. Peralatan yang terkalibrasi dan terawat,

5. Ketelusuran/ketelitian pengujian,

6. Tata cara pengambilan contoh yang benar,

7. Penanganan terhadap contoh yang diuji,

8. Jaminan mutu hasil pengujian,

9. Laporan hasil uji.

Data hasil pengujian yang dilakukan oleh laboratorium  merupakan bagian dari pengambilan keputusan yang sangat penting sehingga diperlukan suatu mekanisme untuk membantu keabsahan data yang dikeluarkan laboratorium yang bersangkutan. Pengujian benih laboratoris bertujuan untuk mendapatkan keterangan tentang mutu suatu kelompok benih yang  digunakan untuk keperluan sertifikasi, pelabelan atau checking mutu.

Pengujian Standar Mutu Benih di Laboratorium:

1.       Penetapan Kadar Air

Kadar air adalah kandungan air dalam benih yang diukur berdasarkan hilangnya kandungan air tersebut dan dinyatakan dalam persen. Kadar air yang terkandung di dalam benih akan sangat mempengaruhi kualitas fisiologis benih. Bahkan untuk kondisi tertentu dapat berpengaruh juga terhadap kualitas fisik benih. Kandungan kadar air benih juga menjadi salah satu faktor penting yang harus diperhatikan pada kegiatan pemanenan, pengolahan, penyimpanan dan pemasaran benih serta kemampuan benih dalam mempertahankan viabilitasnya selama penyimpanan.

Penetapan kadar air benih dapat dilakuakan dengan dua metode langsung dan metode tidak langsung. Dalam Sutopo (2002), pada prinsipnya metode yang digunakan dalam menentukan kadar air ada dua macam yaitu:

a.       Metode praktis/langsung

Metode ini mudah dilaksanakan tetapi hasilnya seringkali kurang akurat karena rentang nilai hasil pengujian dari beberapa kali ulangan seringkali terlalu besar, yang termasuk metode ini adalah metode Calcium carbide, Metode Electric moisture meter, dan lain-lain.

b.       Metode dasar/tidak langsung

Dalam metode ini kadar air ditentukan dengan mengukur kehilangan berat yang diakibatkan oleh pengeringan/pemanasan pada kondisi tertentu, dan dinyatakan sebagai persentase dari berat mula-mula. Yang termasuk dalam metode dasar adalah metode Oven, metode Destilasi, Metode Karl Fisher dan lain-lain.

 

2.       Pengujian Daya Kecambah

Tujuan pengujian daya berkecambah adalah untuk menentukan potensi perkecambahan maksimal suatu lot benih, yang selanjutnya dapat digunakan untuk membandingkan mutu benih dari lot-lot yang berbeda serta untuk menduga nilai pertanaman di lapang. Persentase daya berkecambah menunjukkan proporsi jumlah benih yang menghasilkan kecambah normal di kondisi dan dalam periode pengujian tertentu.

Metode perkecambahan dengan pengujian dilaboratorium untuk menentukan persentase perkecambahan total. Pengujian ini dibatasi pada pemunculan dan perkembangan struktur penting dari embrio, yang menunjukkan kemampuan untuk menjadi tanaman normal pada kondisi lapangan yang optimum. Sedangkan kecambah yang tidak menunjukkan kemampuan tersebut dinilai sebagai kecambah yang abnormal (Sutopo, 2002).

 

3.       Kesegaran Benih

Uji kesegaran biji dilakukan berdasarkan  pada tingkat kesegaran jaringan endosperm. Biji yang masih segar dinilai masih viabel dan sebaliknya (Siagian,2010). Pengujian ini dalam tanaman perkebunan biasanya dilakukan pada biji karet. Pengujian dilakukan dengan mengupas cangkang biji karet yang kemudian dibelah memanjang (membujur) menjadi dua belahan yang sama, kemudian dikelompokkan dalam kelas-kelas berdasarkan tingkat kesegaran jaringan endosperm.

 

Biji yang termasuk dalam kelas I dan II dianggap masih viabel, sedangkan kelas III dan IV dianggap sudah kehilangan viabilitasnya. Jika kesegaran tinggi, maka daya kecambahnya juga tinggi dan persentase kesegaran biji tidak kurang dari 70%.

4.       Analisa Kemurnian

Analisa kemurnian benih merupakan kegiatan menelaah kepositifan fisik benih dari tiga komponen yaitu benih murni, benih tanaman lain dan kotoran benih yang selanjutnya dihitung presentase dari ketiga komponen tersebut. Tujuan analisis kemurnian adalah untuk menentukan komposisi benih murni, benih lain dan kotoran dari contoh benih yang mewakili lot benih. Namun pada benih tanaman perkebunan jarang ditemukan kotoran dalam lot benih karena umumnya benih besar.

 

Pengujian Khusus Mutu Benih di Laboratorium

1.       Penetapan berat 1000 butir,

Penentuan berat untuk 1000 butir benih dilakukan karena karakter ini merupakan salah satu ciri dari suatu jenis benih yang juga tercantum dalam deskripsi jenis. Tujuan yang ingin dicapai dengan pengukuran berat 1000 butir benih adalah untuk mengetahui berat setiap kelompok benih per1000 butir benih dan menentukan efisiensi penentuan berat 1000 butir yang dinyatakan dalam gram. Penentuan berat 1000 butir dapat dipergunakan untuk mengetahui jumlah benih per kg dari suatu jenis yang dapat dijadikan standar dalam perencanaan kebutuhan benih untuk persemaian maupun penanaman.

2. Pengujian viabilitas benih secara biokemis

Viabilitas benih adalah daya hidup benih yang dapat ditunjukkan melalui gejala metabiolisme dan atau gejala pertumbuhan, Selain itu daya kecambah juga merupakan tolak ukur parameter viabilitas potensial benih (Sadjat, 1993). Pengujian viabilitas benih secara biokemis salah satunya adalah dengan uji tetrazolium. Disebut uji biokemis karena uji tetrazolium mendeteksi adanya proses kimia yang berlangsung di dalam sel-sel benih khususnya sel-sel embrio. Adapun kegunaan uji tetrazolium antara lain untuk mengetahui viabilitas benih yang segera akan ditanam, untuk mengetahui viabilitas benih dorman, untuk mengetahui hidup atau matinya benih segar tidak tumbuh dalam pengujian daya berkecambah benih.

3.Pengujian vigor benih

Vigor adalah sejumlah sifat-sifat benih yang mengindikasikan pertumbuhan dan perkembangan kecambah yang cepat dan seragam pada kisaran kondisi lapang yang luas. Pengujian vigor benih bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang nilai daya tumbuh (planting value) dalam kondisi lingkungan kisaran luas dan atau potensi penyimpanan dari lot benih.

4.       Pengujian Kesehatan Benih

Kesehatan benih terutama ditandai oleh ada tidaknya penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme seperti cendawan, bakteri, virus dan penyakit. Tujuan pengujian kesehatan benih adalah untuk menentukan status (keadaan) kesehatan contoh benih dan kesehatan lot benih darimana benih tersebut berasal.

5.       Pengujian Spesies dan Varietas

Pengujian spesies dan varietas dilaksanakan bergantung pada species, varietas atau karakter spesifik apakah pada benih, kecambah atau tanaman yang lebih dewasa dilaboratorium atau yang ditanam di rumah kaca, petak percobaan. Hasil pengujian dikatakan valid jika species atau varietas disebutkan (dinyatakan) oleh pemohon dan tersedia standar yang akan dibandingkan. Untuk membandingkan karakter dapat dilakukan secara morfologi, fisiologi, sitologi atau kimia.

6.       Penetapan Heterogenitas Lot Benih

Kehomogenan mungkin tidak tercapai secara sempurna, tetapi pencampuran yang baik diharapkan sedapat mungkin benih dalam lot benih tersebut dapat homogen. Terdapat tiga pengujian dalam menentukan heterogenitas antara lain persentase berat komponen kemurnian, persentase komponen pengujian perkecambahan dan total benih atau jumlah dari spesies tunggal dalam penetapan benih lain berdasarkan jumlahnya.

Daftar Pustaka

Hasanah, Maharani, 2002. Peran Mutu Fisiologik Benih dan Pengembangan Industri Benih Tanaman Industri. Jurnal Litbang Pertanian, 21(3).

Humandini, Amrik, tanpa tahun. Pengujian Benih Laboratorium. http://jsc.jogjaprov.go.id/images/pengujian%20mutu%20benh%20laboratorium.pdf. Akses 1 Oktober 2011

Metode Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Holtikultura. 2010. BBP2MB-TPH Dirjen Tanaman Pangan. Kementrian Pertanian.

Pedoman Laboratorium Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura. 2006. Dirjen Tanaman Pangan dan Holtikultura. Departemen Pertanian.

Siagian, Nurhawaty, 2010. Viabilitas Biji Karet. Disampaikan pada Magang Petugas Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan. Balai Penelitian Sungei Putih Pusat Penelitian Karet.

Sutopo, Lita. 2002. Teknologi Benih. Universitas Brawijaya. Raja Grafindo Persada Jakarta.

Wirawan, 1998. Peranan benih dalam usaha pengembangan palawija 1. Buletin Agronomi XII (1): 12-15. Seleksi Benih Tahan Kering Melalui Uji PEG

 

 

Last Updated ( Monday, 30 January 2012 13:38 )